Memuat...

Sabtu, Juli 11, 2009

Roti Bakar 88 dan Kopi Darat Narablog Tangerang

[Post by Email]

Seperti yang sudah diinformasikan di blog KBBC (http://blogerbenteng.com) maka tadi beberapa narablog (bloger) Tangerang kumpul di Roti Bakar 88 di Jl. Ki Samaun, Kota Tangerang.

Roti Bakar 88 terletak di pinggir kali Cisadane, di seberang tempat kerja Payjo. Lokasinya cukup asyik, menunya asyik dan harganya tidak bikin rusak dompet. Karena yang asyik-asyik itu nampaknya Roti Bakar 88 selalu ramai. ABG seperti Uzanc juga banyak di sana. Sayang, Uzanc justru kumpul sama bapak-bapak seperti Om Caplang, Om Ade, Om Eka, dan Kang Kombor. Yang belum bapak-bapak seperti Payjo, Antown dan Joule Doc pun nampaknya sudah nggak sebaya dengan Uzanc. Hehehe...

Eits, jangan merajuk Zanc, kami bangga bisa berkumpul bersama kopi darat bersama Kamu. Justru harapan kami, Uzanc dapat membawa ABG semakin banyak ke acara kopdar Bloger Benteng. Syaratnya mudah kok, yang penting bening. Jangan buthek seperti Om Ade.

Oh ya, yang hadir dalam kopi darat tadi adalah Ade, Joule doc, Kang Kombor, Edy Caplang, Payjo, Uzanc, Antown dan Eka Riyadi. Latar belakang para narablog itu macem-macem. Ade adalah bayut insyaf. Joule Doc adalah IT freak. Antown merupakan orang yang tergila-gila pada dirinya sendiri secara alamat blognya adalah Antownholic.com. Caplang adalah Touring Master. Payjo tukang ngupil. Eka Riyadi seorang businessman. Uzanc adalah seorang hacker muda. Yang satu, Kang Kombor sendiri, tukang onani di blogosfer. Senengnya nyampah di blogosfer. Kirim sana kirim sini lalu puas sendiri. Macam onani kan?

Sebenarnya tadi ada Evan Code yang sudah sampai ke Roti Bakar 88 tetapi karena tidak tahu makhluk KBBC itu yang mana saja, maka Evan Code langsung pergi lagi. Hehehe, padahal sudah dibekali nomor ponsel Payjo di milis. Payjo kerjanya di seberang Roti Bakar 88. Apabila telpon Payjo, maka Evan akan ketemu dengan tukang ngupil itu.

Banyak yang diobrolin dalam kopi darat tadi. Mulai yang nggak penting seperti hasil pilpres 2009, rencana KBBC ke depan (yang dibicarakan tanpa ada notulen) dan bagi pengalaman Om Eka Riyadi dengan bisnis afiliasinya. Uzanc pun mengemukakan rencana-rencananya yang hebat. Mantap deh, mudah-mudahan KBBC tidak terlalu sempit untuk menampung ide-ide segar Uzanc.

Pukul 22 acara dibubarkan karena Koordinator KBBC yang kerjanya touring tidak bisa lama-lama dan harus segera meluncur ke rumahnya di Rempoa. Kehilangan Koordinator membuat narablog yang hadir ikut beringsut. Maka bubarlah acara melepas kangen di Roti Bakar 88 itu.

Mudah-mudahan bulan puasa nanti Om Anggara tidak keberatan menggelar buka bersama lagi di rumahnya. Sementara 24 Agustus 2009 nanti adalah jadwal Donor Darah KBBC. Walaupun puasa, donor darah akan tetap dilaksanakan.

Roti Bakar 88 telah menjadi saksi betapa beragamnya latar belakang narablog dalam KBBC. Akan tetapi, seperti Republik ini, yang macam-macam itu semuanya tetap satu dalam KBBC.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

READ MORE - Roti Bakar 88 dan Kopi Darat Narablog Tangerang

Rabu, Juli 08, 2009

Tidak Bisa Pasang Speedy Karena Ada Jaringan Fibre Optic

Kang Kombor tinggal di Graha Sevilla, Perumahan Citra Raya, Kabupaten Tangerang sejak April 2006. Telepon rumah atau jaringan PSTN Telkom baru masuk pertengahan tahun 2008 lalu. Jaringan FirstMedia baru digelar sampai Graha Gardenia. Masih terpaut dua klaster sebelum sampai ke klaster Kang Kombor. Apabila diambil jarak kira-kira 1 km sampai 1,5 km dari Graha Gardenia Extension ke Graha Sevilla.

Mengingat hal tersebut di atas, berlangganan akses internet unlimited seharga Rp99000,- per bulan dengan Fastnet (FirstMedia) jelas belum bisa. Peluang yang Kang Kombor miliki untuk berlangganan internet unlimited adalah menggunakan Speedy dari Telkom. Kang Kombor sudah pasang telpon rumah sehingga tinggal tanya ke 147 apakah telepon rumah Kang Kombor sudah dapat dilayani Speedy.

Sekitar pukul 14:45 WIB tadi Kang Kombor menghubungi 147 untuk menanyakan apakah nomor telepon Kang Kombor sudah dapat dilayani Speedy. Kang Kombor minta operator 147 (tidak usah disebutkan namanya) untuk memeriksa cakupan jaringan Speedy. Dari operator 147 itu Kang Kombor mendapat informasi bahwa nomor telepon rumah Kang Kombor tidak dapat dilayani Speedy karena jaringan telepon menuju ke rumah Kang Kombor ada kabel FO-nya.

147: Nomor telepon Bapak tidak dapat dilayani karena ada jaringan FO

Kombor: Maksudnya bagaimana, Bu?

147: Jaringan kabel ke nomor telepon Bapak tidak murni tembaga. Ada jaringan bawah tanah yang berupa FO sehingga tidak dapat dilayani Speedy

Kombor: Jadi karena ada fibre optic maka tidak bisa dilayani Speedy? Bukankah fibre optic lebih baik daripada tembaga untuk akses data?

147: Iya, Pak. Untuk dapat dilayani Speedy seluruh jaringannya harus berupa kabel tembaga

Kombor: Bukan karena belum ada router/hub Speedy?

147: Bukan, Pak. Karena adanya jaringan bawah tanah berupa FO itu

Kombor: Jadi jawaban Telkom adalah telepon saya tidak dapat dilayani Speedy karena ada jaringan bawah tanah berupa FO?

147: Betul, Pak.

Hmmm... Kang Kombor tidak dapat membayangkan betapa ruwetnya bumi Indonesia apabila semua jaringan telepon Telkom harus memakai kabel tembaga agar dapat memberikan layanan Speedy kepada pelanggannya. Hari genee masih mau main kabel tembaga. Pada era broadband seperti ini, di mana Speedy menawarkan pita akses sampai dengan 3 Mbps, kabel tembaga masih jadi backbone?

Apakah memang seperti itu? Mungkin ada orang Telkom yang kebetulan baca kiriman saya ini untuk bisa mengklarifikasi. Apa iya, untuk bisa langganan Speedy maka jaringan telepon ke rumah kita harus murni tembaga semuanya?

Lucu. Menurut saya lucu sih. Bukan masalah kabelnya menurut saya. Mau tembaga atau FO, yang penting routingnya, bukan fisik kabelnya. Tetapi, itulah jawaban operator 147.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

READ MORE - Tidak Bisa Pasang Speedy Karena Ada Jaringan Fibre Optic

Hasil Quick Count Pilpres 2009 Satu Putaran

Pemungutan suara Pemilihan Presiden 2009 telah dilaksanakan. Di tengah-tengah kisruh DPT yang tidak berhasil diperbaiki oleh KPU sejak berakhirnya pemilihan legislatif 9 April 2009 yang lalu, Bangsa Indonesia telah melaksanakan pilpres dengan sukses. Tidak ada gangguan selama pilpres 2009. Papua pun aman tanpa kejadian-kejadian seperti pada pilleg lalu.

Hasil quick count MetroTV menunjukkan pasangan SBY Boediono memimpin dengan 58,51%, Megawati Prabowo 26,32% dan JK Wiranto 15,18%. Hasil quick count sudah mencapai 94,77% sampai pukul 16:30 WIB. Sebaran suara di atas 20% pasangan SBY Boediono sudah lebih dari separuh jumlah provinsi di Indonesia. Dengan demikian, menurut hasil quick count, pasangan SBY Boediono memenangkan pilpres 2009 dan pilpres 2009 berlangsung hanya satu putaran.

Kang Kombor mengucapkan selamat kepada pasangan SBU Boediono dan para pendukung/pemilihnya atas hasil quick count tersebut. Kang Kombor meyakini hasil real count KPU tidak akan bergeser terlalu jauh dari hasil quick count yang telah dilakukan.

Apabila real count KPU nanti menyatakan Pilpres 2009 berlangsung satu putaran, masyarakat Indonesia harus ingat bahwa pelantikan Presiden dan Wakil Presiden baru hanya akan dapat dilakukan pada 20 Oktober 2009. Presiden dan Wakil Presiden baru tidak dapat dilantik lebih cepat dari tanggal tersebut.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
READ MORE - Hasil Quick Count Pilpres 2009 Satu Putaran

Senin, Juli 06, 2009

Akhirnya KTP Bisa Digunakan Untuk Memilih Pada Pilpres 2009

image

Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa KTP dan Paspor dapat digunakan untuk memilih pada piplres 8 Juli 2009 yang akan datang. Ada pun syarat-syarat penggunaan KTP dan paspor pada pilpres 2009 nanti adalah:

  1. Warga negara Indonesia bisa menunjukkan KTP atau paspor yang masih berlaku bagi warga Indonesia di luar negeri
  2. KTP harus dilengkapi kartu keluarga dan identitas sejenisnya
  3. Penggunaan hak pilih KTP hanya bisa digunakan di TPS yang berada di RT/RW atau nama sejenisnya sesuai alamat yang tertera di KTP
  4. Warga Indonesia yang disebutkan di angka 3, sebelum menggunakan hak pilih, terlebih dulu harus mendaftarkan diri pada KPPS setempat
  5. Warga Indonesia yang menggunakan paspor atau KTP, harus mencontreng paling cepat 1 jam sebelum pemungutan suara selesai.

Terlepas dari syarat nomor tiga di mana KTP hanya dapat dipergunakan di TPS yang berada di RT/RW sesuai alamat yang tertera pada KTP, keputusan ini merupakan kemenangan untuk kebenaran dan rakyat yang tertindas oleh penguasa yang curang.

Sebagaimana diketahui bersama, gugatan uji materi penggunaan KTP bagi penduduk yang tidak terdaftar dalam DPT dilakukan oleh pasangan Megawati Prabowo dan JK Wiranto yang peduli pada rakyat atas DPT hasil kerja KPU yang bermasalah di mana puluhan juta WNI tertutup kemungkinannya untuk menggunakan hak pilihnya karena tidak terdaftar dalam DPT dan sebaliknya banyak orang yang terdaftar ganda dalam DPT tersebut.

SBY tidak memperjuangkan hak pilih rakyat

SBY adalah calon presiden yang tidak peduli atas buruknya DPT pilpres dan pilleg 2009. Ketika pasangan Megawati Prabowo dan JK Wiranto memperjuangkan agar puluhan juta rakyat yang tertutup hak memilihnya karena tidak terdaftar dalam DPT dapat memilih, pasangan SBY Boediono diam saja. Ketidakpedulian SBY terhadap hak rakyat juga dicerminkan dalam ketidakhadirannya pada sidang MK yang menyidangkan uji materi penggunaan KTP bagi warga negara Indonesia yang tidak terdaftar dalam DPT.

Prabowo Subianto Djojohadikusumo sendiri, ketika mempersoalkan DPT dan memperjuangkan hak pilih rakyat tidak memikirkan kalah atau menang. Yang dipikirkannya adalah agar pilpres berjalan secara baik sesuai dengan koridor konstitusi dan tidak ada hak pilih rakyat yang ditutup.

Kebenaran akan bicara sendiri

Dalam setiap kesempatan, Prabowo Subianto Djojohadikusumo selalu mengatakan bahwa kebenaran akan bicara sendiri, setiap kali ditanya wartawan mengapa PSD, demikian inisial Prabowo, tidak pernah membantah isu yang memojokkannya sebagai aktor kerusuhan 1998 dan beberapa kasus lainnya. Ternyata, kebenaran akhirnya bicara sendiri. Keputusan MK yang memperbolehkan penggunaan KTP/paspor untuk memilih pada pemilu 2009 nanti adalah sebuah bentuk bicaranya kebenaran.

Bentuk lain adalah blunder-blunder yang dilakukan oleh Tim Sukses SBY sendiri seperti kasus Arab lucu dan orang Bugis belum saatnya menjadi presiden. Kebenaran lain, soal kenaikan harga BBM tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun saja, pertamakali dalam sejarah sejak Orde Baru, tingkat inflasi yang lebih tinggi dari 2004, harga-harga kebutuhan pokok rakyat yang lebih tinggi dari 2004 belum disadari oleh rakyat banyak karena memang Tim Sukses SBY menutupi hal tersebut. Namun, pada akhirnya rakyat juga akan tahu meskipun disertai penyesalan yang dalam.

Bocornya email Andi Mallarangeng juga merupakan sebuah wujud dari bicaranya kebenaran. Orang Jawa bilang becik ketitik, ala ketara. Yang baik akan kelihatan, yang buruk akan nampak (nyata). Orang Melayu punya peribahasa sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Entahlah, apakah rakyat Indonesia akan menghukum mereka yang sudah lancung ke ujian sebagaimana peribahasa sekali lancung ke ujian, seumur hidup tidak akan dipercaya.

Mari ke TPS pada 8 Juli 2009

MK sudah berpihak kepada rakyat dengan keputusannya. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama berbondong-bondong pergi ke TPS untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden kita. Terserah kepada masing-masing, apakah akan memilih mereka yang memperjuangkan rakyat untuk mendapatkan hak memilihnya kembali, atau memilih mereka yang tidak peduli pada banyaknya WNI yang tidak terdaftar dalam DPT. Semua itu terserah Sampeyan. Apabila salah pilih Presiden dan Wakil Presiden, Sampeyan juga yang akan menyesal.

READ MORE - Akhirnya KTP Bisa Digunakan Untuk Memilih Pada Pilpres 2009

Moh Arif Widarto berbagi artikel: Email Andi Mallarangeng Bocor, Pemilu makin panas

Warga Politikana kombor ingin berbagi artikel dengan Anda.

Email Andi Mallarangeng Bocor. Dalam email itu ada disebut beberapa tokoh secara sarkastis. Silakan dibaca di politikana.
Email Andi Mallarangeng Bocor, Pemilu makin panas

Saya mendapatkan fwd-an email dari seorang kawan. Karena sudah panjang bgt fwd2an-nya sampai saya tidak tahu darimana ini berasal. Tetapi email ini menarik karena berisi transkrip email antara Andi Mallarangeng, Jubir sekaligus Tim Sukses SBY-Boediono dengan Muchis Hasyim, saya tidak tahu orang ini siapa, tapi kayaknya Tim Sukses SBY-Boediono juga. Sebenarnya kalo saya amati, ini hanya korespondensi internal biasa antara tim sukses. Masalahnya adalah kenapa email ini sampai bocor. Sebab dalam email internal ini banyak sekali nama-nama yang disebut dengan sedikit sarkastis. Nah masalahnya, ini bukan kali pertama jubir presiden ini berbuat seperti ini. Setelah kejadian di Makassar kemarin, kayaknya Andi harus menghadapi masalah baru yang lebih serius lagi. Selamat menikmati email yang bocor ini.


Artikel lengkapnya dapat dilihat di http://politikana.com/baca/2009/07/05/email-andi-mallarangeng-bocor-pemilu-makin-panas.
Profil pengirim bisa dilihat di http://politikana.com/profil/kombor.


Salam Politikana
READ MORE - Moh Arif Widarto berbagi artikel: Email Andi Mallarangeng Bocor, Pemilu makin panas

Capres Negarawan Akan Peduli Pada Buruknya DPT

image

Menanggapi buruknya DPT pilpres 2009, Pasangan capres – cawapres no. 1 dan no. 3 meminta KPU menunda pilpres 2009 sampai masalah DPT selesai atau memperbolehkan WNI memilih dengan menggunakan KTP. KPU tidak mau menunda pemilu sembari tidak mau memutuskan penggunaan KTP untuk memilih. KPU tidak mau mengeluarkan Peraturan KPU karena merasa peraturan KPU tidak cukup untuk itu. Dasar hukumnya harus PERPU.

Menurut Kang Kombor, itu hanyalah masalah tanggung jawab. Tidak ada yang berani mengambil tanggung jawab. Baik KPU, maupun yang berwenang mengeluarkan PERPU. Akhirnya, tanggung jawab dilempar kepada MK. MK yang diminta memutuskan mengenai penggunaan KTP untuk memilih.

Satu hal lagi yang lucu, Hidayat Nurwahid, tokoh PKS yang terkenal jujur itu dan sampai saat ini masih menjabat sebagai Ketua MPR mengeluarkan pernyataan agar capres bersikap kenegarawanan dan melaksanakan pilpres sesuai jadwal.

Aneh tenan. Ada dua pasangan capres dan cawapres yang sangat peduli dengan buruknya DPT pilpres dan minta agar pemilu ditunda sampai DPT itu diperbaiki agar tidak ada satu pun HAM warga negara yang dilanggar oleh penyelenggara pemilu kok malah dikatakan tidak negarawan. Sedangkan, salah satu capres yang sama sekali tidak peduli pada “kebersihan” DPT malah dikatakan negarawan (secara implisit).

Kang Kombor pikir, ustadz Hidayat Nurwahid sudah kehilangan kejujurannya. Ustadz PKS itu melihat kenegarawanan dari kepentingan politik sesaat, bukan dari perspektif kemaslahatan bangsa ini secara jangka panjang. Pemilu legislatif 2009 lalu sudah dinilai oleh banyak kalangan sebagai pemilu paling buruk sejak 1999. Masalah DPT menjadi isu utama dari rapor buruknya pemilu legislatif 2009. Kali ini, menjelang pilpres 2009, ternyata DPT masih juga bermasalah. Masih ditemukan adanya NIK ganda di Jawa Timur. Padahal, pada pemilu legislatif lalu, hal tersebut sudah ditemukan. Apa itu artinya? Konon, keledai saja tidak akan terperosok pada lubang yang sama dua kali. Nah, ini… KPU, masih saja tidak mampu memperbaiki DPT.

Kang Kombor sarankan ustadz Hidayat Nurwahid untuk beristighfar sebanyak-banyaknya. Menunda pemilihan presiden sampai DPT berhasil diperbaiki akan lebih memberi maslahat daripada melaksanakan pilpres 2009 dengan pura-pura buta akan keburukan DPT.

READ MORE - Capres Negarawan Akan Peduli Pada Buruknya DPT

Jumat, Juli 03, 2009

Tim Sukses SBY: Orang Arab Lucu dan Orang Bugis Belum Saatnya Jadi Presiden

 

image

Kang Kombor nggak akan banyak mengomentari. Silakan saja Sampeyan komentari sendiri.

READ MORE - Tim Sukses SBY: Orang Arab Lucu dan Orang Bugis Belum Saatnya Jadi Presiden

Senin, Juni 29, 2009

Bahkan John Howard Tidak Pernah Menganggap Amerika Serikat Sebagai Negara Keduanya

“I love The United States, with all of its faults. I consider it to my second country.”

Kang Kombor bukan siapa-siapa. Kang Kombor hanyalah seseorang di antara serakan 230 juta jiwa penduduk Indonesia. Akan tetapi, Kang Kombor tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Kang Kombor mencintai Amerika Serikat dengan segala kesalahannya dan menganggapnya sebagai tanah air kedua Kang Kombor.

image

Australia dikenal sebagai sheriff-nya Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik. Namun, belum pernah sekali-kali John Howard yang kepada George W Bush nginthil terus itu mengatakan bahwa ia menganggap/mempertimbangkan Amerika Serikat sebagai negara (tanah air) keduanya setelah Australia.

Bahkan, (ini imajiner Kang Kombor saja), Lee Kuan Yew yang konon lahir di Indonesia pun Kang Kombor yakini tidak akan pernah mengatakan bahwa ia menganggap Indonesia sebagai negara kedua bagi dirinya.

Tidak Megawati Soekarnoputri. Tidak pula Jusuf Kalla. Tidak Wiranto, tidak pula Prabowo Soebianto yang pernah ditawari untuk menjadi warga negara kehormatan di Yordania oleh Raja Yordania waktu itu. Tawaran yang tidak diterima oleh Prabowo Soebianto.

Ini bukan kampanye hitam atau kampanye negatif. Ini adalah fakta. International HeraldTribune pernah mengutipkan kalimat yang Kang Kombor kutipkan pada awal kiriman ini pada 8 Agustus 2003 lalu dari pidato Soesilo Bambang Yudhoyono ketika mengunjungi Amerika Serikat. Pada saat itu, SBY masih menjabat sebagai Menko Polkam.

Bertolak belakang dengan hal itu, Bung Hatta pernah mengutip sajak penyair Belgia, Rene de Clerq, yang dijadikan salah satu penutup pledoinya yang terkenal yang berjudul Indonesia Merdeka, 81 tahun yang lalu. Kutipan sajak itu adalah:

Hanya satu tanah yang bisa disebut tanah airku.
Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku.

Kutipan sajak itu pula yang disitir oleh Tim Sukses SBY pada sebuah iklan media cetak (sumber: klik di sini). Sebuah usaha manis untuk mengubur pernyataan SBY pada tahun 2003 di Amerika Serikat. Usaha yang bisa menipu orang lain tetapi bukan Kang Kombor.

image

image

Pernyataan yang terjemahan bebasnya berbunyi “Saya mencintai Amerika Serikat dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya sebagai negara kedua saya.”, itu bukan pernyataan imajiner yang Kang Kombor buat-buat. Pernyataan itu Kang Kombor percayai benar-benar diucapkan oleh SBY di Amerika. International Herald Tribune mengutipnya pada 8 Agustus 2003. Al-Jazeera English mengutip pernyataan itu pada Juli 2004 saat menampilkan Profil SBY. GDS Publishing, sebuah penerbitan yang di bidang jurnal manajemen pada pasar-pasar paling berkembang di dunia juga mengutip pernyataan di International Herald Tribune pada sebuah artikel tentang SBY yang berjudul The right man for the job.

Bagi Kang Kombor, pimpinan tertinggi pemerintahan dan kepala negara di Indonesia ini haruslah seseorang yang nasionalis dan patriotis. Seorang yang nasionalis dan patriotis tentu tidak akan mengucapkan pernyataan yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah itu. Pak Dirman yang ditandu dalam keadaan sakit dengan paru-paru hanya sebelah yang masih sehat tidak akan pernah mengatakan itu. Soekarno pun yang pada dekade akhir kehidupannya dipenjara secara politik dan sosial oleh Orde Baru pun tidak mengucapkannya. Tidak pula Sang Ratu Orde Baru pada saat lengser keprabon sampai akhir hayatnya.

Kang Kombor tidak menulis kiriman ini karena Kang Kombor anggota salah satu parpol pengusung pasangan capres – cawapres no.1. Tidak. Pada tahun 2004, Kang Kombor mencoblos Amien Rais – Siswono Yudohusodo pada putaran pertama dan tidak mencoblos pada putaran kedua. Walaupun tidak pernah masuk PAN, Kang Kombor pun mengajak orang-orang di sekeliling Kang Kombor pada 2004 itu untuk memilih Amien Rais karena saat itu Kang Kombor percaya Amien Rais orang yang hatinya lurus.

Sampai saat ini, Kang Kombor pun masih mengingat pernyataan itu. Kang Kombor pun masih mengajak orang-orang untuk memilih pemimpin yang nasionalis dan patriotis. Pemimpin yang tidak akan mengalahkan Pertamina demi Exxon Mobile karena cintanya pada Amerika Serikat dengan segala kesalahan negara super power itu menjelang kedatangan Condoleeza Rice. Pemenangan Exxon Mobile dalam tender pengelolaan Blok Cepu, sadar atau tidak, merupakan wujud sebuah cinta. Cinta pada Amerika Serikat.

Kang Kombor tidak akan bangga apabila nanti punya cucu dan Kang Kombor bercerita pada cucu Kang Kombor, “Kakek dulu pernah memilih Presiden RI, seorang yang menganggap Amerika Serikat sebagai negara keduanya.”

Catatan: semua potongan gambar berisi kutipan diambil dari taut yang berisikan kutipan pernyataan cinta amerika serikat itu.

READ MORE - Bahkan John Howard Tidak Pernah Menganggap Amerika Serikat Sebagai Negara Keduanya

Menepis Neoliberalisme Dengan Lisan

Pilpres 2009 tinggal delapan hari lagi. Mudah-mudahan para pemilih cerdas Indonesia tidak salah dalam memilih Presiden yang akan mewarnai Indonesia dengan kebijakannya selama lima tahun ke depan.

Menjelang pendaftaran pasangan capres dan cawapres 2009, kita telah disebari isu mengenai neoliberalisme. Isu neoliberalisme itu ditujukan kepada Boediono yang santer disebut sebagai bakal cawapres SBY. Isu itu tetap beredar pada saat Boediono sudah resmi dideklarasikan sebagai cawapres SBY. Pro dan kontra merebak menanggapi isu tersebut. Di antara pendapat yang kontra, ada yang menanggapi dengan argumen yang menunjukkan ketidakcocokan tuduhan yang ditujukan kepada Boediono sebagai penganut neoliberalisme karena kebersahajaan hidupnya.

Pada kesempatan ini, Kang Kombor akan mengajukan dua artikel yang ditulis oleh Revrisond Baswir mengenai neoliberalisme dan Boediono. Sebagai penyeimbang, akan saya kutipkan tulisan Faisal Basri mengenai Boediono. Kang Kombor akan mengutip langsung semua tulisan tersebut dengan memberi taut ke masing-masing tulisan. Tujuannya adalah supaya Sampeyan tidak perlu meloncat-loncat ke berbagai website/blog dalam membacanya.

Tulisan Pertama, Neoliberalisme,oleh Revrisond Baswir

ANALISIS : Neoliberalisme

Oleh : Revrisond Baswir

18/05/2009 08:50:25

(tulisan asli: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=198648&actmenu=45)

NEOLIBERALISME. Tiba-tiba saja mencuat menjadi wacana hangat di tengah-tengah masyarakat. Pemicunya adalah munculnya nama Boediono sebagai calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden yang akan datang. Menurut para penentang mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut, Boediono seorang ekonom yang menganut paham ekonomi neoliberal, sebab itu ia sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas Boediono atau paham ekonomi yang dianutnya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menguraikan pengertian, asal mula, dan perkembangan neoliberalisme secara singkat. Saya berharap, dengan memahami neoliberalisme secara benar, silang pendapat yang berkaitan dengan paham ekonomi ini dapat dihindarkan dari debat kusir. Sebaliknya, para ekonom yang jelas-jelas mengimani neoliberalisme, tidak secara mentah-mentah pula mengelak bahwa dirinya bukan seorang neoliberalis.

Sesuai dengan namannya, neoliberalisme adalah bentuk baru dari paham ekonomi pasar liberal. Sebagai salah satu varian dari kapitalisme yang terdiri dari merkantilisme, liberalisme, keynesianisme, neoliberalisme dan neokeynesianisme, neoliberalisme adalah sebuah upaya untuk mengoreksi kelemahan yang terdapat dalam liberalisme.

Sebagaimana diketahui, dalam paham ekonomi pasar liberal, pasar diyakini memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Karena pasar dapat mengurus dirinya sendiri, maka campur tangan negara dalam mengurus perekonomian tidak diperlukan sama sekali. Tetapi setelah perekonomian dunia terjerumus ke dalam depresi besar pada tahun 1930-an, kepercayaan terhadap paham ekonomi pasar liberal merosot secara drastis. Pasar ternyata tidak hanya tidak mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi dapat menjadi sumber malapetaka bagi kemanusiaan. Depresi besar 1930-an tidak hanya ditandai oleh terjadinya kebangkrutan dan pengangguran massal, tetapi bermuara pada terjadinya Perang Dunia II.

Menyadari kelemahan ekonomi pasar liberal tersebut, pada September 1932, sejumlah ekonom Jerman yang dimotori oleh Rustow dan Eucken mengusulkan dilakukannya perbaikan terhadap paham ekonomi pasar, yaitu dengan memperkuat peranan negara sebagai pembuat peraturan. Dalam perkembangannya, gagasan Rostow dan Eucken diboyong ke Chicago dan dikembangkan lebih lanjut oleh Ropke dan Simon.
Sebagaimana dikemas dalam paket kebijakan ekonomi ordoliberalisme, inti kebijakan ekonomi pasar neoliberal adalah sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap faktor-faktor produksi diakui dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961). Tetapi dalam konferensi moneter dan keuangan internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Bretton Woods, Amerika Serikat (AS) pada 1944, yang diselenggarakan untuk mencari solusi terhadap kerentanan perekonomian dunia, konsep yang ditawarkan oleh para ekonom neoliberal tersebut tersisih oleh konsep negara kesejahteraan yang digagas oleh John Maynard Keynes.

Sebagaimana diketahui, dalam konsep negara kesejahteraan atau keynesianisme, peranan negara dalam perekonomian tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal dan moneter, khususnya untuk menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja dan menjamin stabilitas moneter. Terkait dengan penciptaan lapangan kerja, Keynes bahkan dengan tegas mengatakan: ”Selama masih ada pengangguran, selama itu pula campur tangan negara dalam perekonomian tetap dibenarkan.”
Namun kedigdayaan keynesianisme tidak bertahan lama. Pada awal 1970-an, menyusul terpilihnya Reagen sebagai presiden AS dan Tatcher sebagai Perdana Menteri Inggris, neoliberalisme secara mengejutkan menemukan momentum untuk diterapkan secara luas. Di Amerika hal itu ditandai dengan dilakukannya pengurangan subsidi kesehatan secara besar-besaran, sedang di Inggris ditandai dengan dilakukannya privatisasi BUMN secara massal.

Selanjutnya, terkait dengan negara-negara sedang berkembang, penerapan neoliberalisme menemukan momentumnya pada akhir 1980-an. Menyusul terjadinya krisis moneter secara luas di negara-negara Amerika Latin. Departemen Keuangan AS bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF), merumuskan sebuah paket kebijakan ekonomi neoliberal yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington. Inti paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut adalah sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk kebijakan penghapusan subsidi; (2) liberalisasi sektor keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.

Di Indonesia, pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara masif berlangsung setelah perekonomian Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997/1998 lalu. Secara terinci hal itu dapat disimak dalam berbagai nota kesepahaman yang ditandatatangani pemerintah bersama IMF. Setelah berakhirnya keterlibatan langsung IMF pada 2006 lalu, pelaksanaan agenda-agenda tersebut selanjutnya dikawal oleh Bank Dunia, ADB dan USAID.
Menyimak uraian tersebut, secara singkat dapat disimpulkan, sebagai bentuk baru liberalisme, neoliberalisme pada dasarnya tetap sangat memuliakan mekanisme pasar. Campur tangan negara, walau pun diakui diperlukan, harus dibatasi sebagai pembuat peraturan dan sebagai pengaman bekerjanya mekanisme pasar. Karena ilmu ekonomi yang diajarkan pada hampir semua fakultas ekonomi di Indonesia dibangun di atas kerangka kapitalisme, maka sesungguhnya sulit dielakkan bila 99,9 persen ekonom Indonesia memiliki kecenderungan untuk menjadi penganut neoliberalisme. Wallahua’lambishawab. (Penulis adalah Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)-a

Tulisan kedua, Boediono dan Neoliberalisme,oleh Revrisond Baswir

ANALISIS : Boediono dan Neoliberalisme

Oleh : Revrisond Baswir

20/06/2009 09:56:25

tulisan asli: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=200611&actmenu=35

DALAM tulisan sebelumnya (KR, 17/5/2009), saya telah mengemukakan secara singkat pengertian, asal mula dan perkembangan neoliberalisme. Kesimpulannya sangat jelas, sebagai pembaharuan liberalisme, neoliberalisme tetap memuja ekonomi pasar. Campur tangan negara, walaupun diundang, hanya dibatasi sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Yang menarik, dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan yang terjadi belakangan ini, hampir semua pihak enggan disebut sebagai seorang neolib. Bahkan, sebagaimana dipertontonkan oleh para ekonom pembela Boediono, dengan sangat memaksa mereka mencoba mengaitkan Boediono dengan ekonomi Pancasila.

Pertanyaannya, mengapa kebanyakan ekonom yang selama ini sangat pro-pasar tersebut tiba-tiba menghindar disebut sebagai seorang neolib? Benarkah Boediono seorang pendukung ekonomi Pancasila? Dan peristiwa apa sajakah yang perlu dicermati untuk mengetahui ideologi ekonomi seseorang?

Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mudah. Pertama, andaikan bukan dalam suasana pemilu, sebenarnya para ekonom pembela Boediono itu tidak memiliki alasan apa pun untuk mengelak dari tuduhan sebagai seorang neolib. Hal itu tidak hanya karena teori-teori yang mereka pelajari hampir seluruhnya berbasis liberalisme dan kapitalisme, tetapi terutama karena dukungan terbuka mereka terhadap pelaksanaan agenda-agenda Konsensus Washington selama ini.

Kedua, karena dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan itu neoliberalisme secara langsung dibenturkan dengan konstitusi. Maka menentang konstitusi secara terbuka jelas bukan pilihan politik yang bijak. Walau pun demikian, sebagaimana berlangsung 40 tahun terakhir, hal itu sama sekali bukan jaminan bahwa para ekonom pro-pasar itu akan berhenti meminggirkan konstitusi.

Berangkat dari kedua penjelasan tersebut, maka upaya untuk mengenali posisi Boediono terhadap ekonomi Pancasila menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Pertama, secara jujur harus diakui, sebagai penyumbang tulisan dalam seminar ekonomi Pancasila yang digelar Fakultas Ekonomi UGM pada 1980 dan turut menyunting buku kumpulan makalah seminar itu, Boediono memang memiliki jasa yang cukup besar dalam mengangkat ekonomi Pancasila kepermukaan.

Pertanyaannya, kiprah apa sajakah yang dilakukan Boediono dalam mengembangkan ekonomi Pancasila setelah seminar tersebut? Beberapa tahun pertama setelah seminar itu, Boediono memang masih cukup aktif terlibat dalam perbincangan mengenai ekonomi Pancasila. Ia, misalnya, bersama Mubyarto, turut berpolemik dengan Arief Budiman. Setelah itu, Boediono juga turut menyumbangkan tulisan untuk buku Wawasan Ekonomi Pancasila yang disunting oleh Abdul Madjid dan Sri-Edi Swasono (1981).
Tetapi setelah bergabung dengan Bappenas pada 1984, Boediono serta merta hilang dari peredaran. Sebagian orang mungkin akan berkata, bukankah dengan menjadi birokrat Boediono justru memiliki kesempatan untuk mengamalkan ekonomi Pancasila?

Perjalanan karier Boediono ternyata berbicara lain. Sebagaimana diketahui, setelah berkarir di Bappenas, Boediono kemudian secara berturut-turut menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia, Kepala Bappenas dalam pemerintahan Habibie, menteri keuangan Pemerintahan Megawati, Menteri Koordinator Perekonomian Pemerintahan SBY-JK. Dan terakhir menjadi Gubernur Bank Indonesia. Tentu banyak catatan yang bisa dibuat mengenai sepak terjang Boediono sepanjang karier birokrasi dan pemerintahannya tersebut. Yang jelas, setelah Indonesia mengalami krisis moneter pada 1997/1998 dan Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan Pemerintahan Megawati, pada masa itulah privatisasi BUMN berlangsung secara masif.

Kemudian, pada 2006, ketika Boediono menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian, pada masa ini pula pemerintahan SBY-JK sangat gencar menaikkan harga BBM. Pendek kata, dalam dua pemerintahan terakhir, Boediono terlibat secara aktif dalam melaksanakan agenda-agenda ekonomi neoliberal di Indonesia.

Pertanyaannya, di antara beragam peristiwa sepanjang karier birokrasi dan pemerintahan Boediono itu, peristiwa apakah yang sangat tegas mengungkapkan ideologi ekonominya?

Jawabannya dapat ditelusuri dengan menyimak proses amandemen Pasal 33 UUD 1945 pada 2002. Sebagai menteri keuangan, Boediono termasuk yang dimintai pendapat oleh MPR mengenai Pasal 33 UUD 1945. Tetapi berbeda dari Mubyarto yang secara mati-matian membela Pasal 33, Boediono ternyata mendukung amandemen. Mubyarto ketika itu pasti sangat membutuhkan dukungan Boediono selaku pejabat pemerintah. Tetapi fakta berbicara lain. Akibatnya, karena merasa dikeroyok oleh para ekonom neoliberal yang menjadi anggota Tim Ahli PAH IV MPR, kecuali Dawam Rahardjo, maka Mubyarto memutuskan untuk mundur sebagai ketua tim tersebut.

Boediono, yang ketika menggagas ekonomi Pancasila berada di sisi Mubyarto, saat amandemen Pasal 33 UUD 1945 ternyata berada di kubu seberang. Kesimpulannya, wallahua’lam. (Penulis adalah Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)-e

Tulisan ketiga, Sisi Lain Pal Boed Saya Kenal, oleh Faisal Basri

Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal

Oleh Faisal Basri - 14 Mei 2009

tulisan asli: http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/05/14/pak-boed-yang-saya-kenal/

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.

Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.

Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak Boed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.

Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.

Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan, dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah …  Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.

Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.

Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.

Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.

Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno-Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.

Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.

Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.

Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.

Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa.

Monggo Sampeyan renungkan sendiri, apakah menurut Sampeyan, Boediono itu penganut neoliberalisme atau bukan. Untuk bahan bacaan lain, Kang Kombor persilakan Sampeyan membaca Pro Kontra Apakah Boediono Neoliberalisme atau Tidak. Pada tulisan tersebut juga terdapat tulisan Revrisond Baswir dan Faisal Basri. Bedanya, pada tulisan tersebut, tulisan Revrisond Baswir adalah tulisan berjudul Jalan Neoliberal Pak Boed yang ditulis pada 28 Februari 2007 di Media Indonesia dan dipublikasikan kembali oleh Prakarsa Rakyat.

Selain tulisan Revrisond Baswir dan Fasisal Basri, masih banyak pula pendapat-pendapat mengenai isu neoliberalisme Boediono yang dipaparkan pada tulisan tersebut.

Penutup dari Kang Kombor, lisan memang bisa menyangkal. Akan tetapi, berbagai macam kebijakan yang diambil, tidak akan dapat membutakan pikiran mereka yang berhati jujur.

READ MORE - Menepis Neoliberalisme Dengan Lisan

Jumat, Juni 19, 2009

Gerakan Pilpres Satu Putaran Menegaskan Neoliberalisme

Kampanye pilpres satu putaran mendapat beragam tanggapan. Ada tanggapan pro dan ada tanggapan kontra. Bedanya, para akademisi dan pengamat yang netral lebih banyak memberikan tanggapan kontra. Yang memberikan tanggapan pro hanyalah Tim Sukses SBY Boediono dan akademisi dan pengamat yang nyata-nyata telah berafiliasi kepada SBY Boediono.

Tanggapan terbaru diberikan oleh Aloysius Nugroho dari Universitas Atma Jaya. Seperti yang disampaikan dalam acara Election Update Sore hari ini (Jumat, 19 Juni 2009) di Metro TV, gerakan pilpres satu putaran dengan tujuan untuk menghemat dana dan efisiensi anggaran justru menegaskan ideologi neoliberal yang dianut.

Menurut Aloysius Nugroho, neoliberalisme lebih cenderung menilai segala sesuatu dengan ukuran ekonomi. Sebagai contoh, proses demokrasi dinilai dengan ukuran ekonomi sehingga yang keluar adalah penghematan dan efisiensi anggaran. Dalam jangka pendek, menurut Aloysiuis Nugroho, penghematan dan efisiensi anggaran akan tercapai. Akan tetapi, dalam jangka panjang, akan timbul kerugian bagi demokrasi.

Pasangan SBY Boediono setengah mati menyangkal bahwa mereka menganut neoliberalisme. Akan tetapi, neoliberalisme adalah semacam ideologi yang sudah melembaga dalam jiwa dan ikut mengalir dalam aliran darah. Sehingga, perbuatan penganut neoliberalisme tanpa sadar muncul walaupun lisan berusaha menyangkal. Salah satu contohnya adalah gerakan pilpres satu putaran dengan tujuan penghematan dan efisiensi anggaran tersebut. Aloysius Nugroho menyebutkan tujuan itu justru menegaskan neoliberalisme yang dianut tim pasangan itu.

Wallahu alam.
-------------
Sent from my KomborBerry® smartphone
READ MORE - Gerakan Pilpres Satu Putaran Menegaskan Neoliberalisme

Debat Capres Pertama Tidak Akan Mengubah Preferensi Pemilih

Debat capres pertama yang dilakukan KPU dengan tema Tata kelola pemerintahan yang baik, penegakan hukum dan hak azasi manusia yang diselenggarakan pada 18 Juni 2009 malam di Trans TV Kang Kombor percaya tidak memiliki pengaruh pada preferensi pemilih. Debat tersebut tidak akan mengubah pilihan mereka yang sudah punya preferensi.

Jujur saja, Kang Kombor menilai debat capres tersebut terasa garing. Belum terlihat adanya keunikan dari pandangan masing-masing capres sehingga penonton debat pun belum berhasil mengurai kelebihan dan kekurangan masing-masing capres. Dengan demikian, yang sudah punya pilihan masih belum goyah dengan pilihannya.

Akan tetapi, apabila debat capres dan dbat cawapres selanjutnya berlansung seperti itu, hambar dan tidak berhasil menonjolkan keunggulan visi dan pemikiran salah satu capres maka capres incumbent yang akan mendapatkan keuntungan dari acara debat tersebut. Kegagalan capres penantang mengemukakan keunggulan visi, misi, strategi dan pemikiran akan membuat mereka tidak menonjol. Akibatnya jelas, mereka tidak kelihatan lebih baik daripada incumbent.

Sebaiknya, tim sukses membekali capresnya dengan materi yang memadai dengan mengutamakan muatan visi, misi, strategi atau pemikiran yang mampu menggugah rakyat untuk memilih. Memang, Kang Kombor tidak yakin bahwa semua orang tertarik untuk mengkuti debat. Hanya mereka yang memiliki intellectual curiosity saja yang menyaksikan. Akan tetapi, jangan lupa, mereka-mereka ini memiliki kemampuan untuk mempengaruhi mereka yang tidak menyaksikan debat.

-------------
Sent from my KomborBerry® smartphone
READ MORE - Debat Capres Pertama Tidak Akan Mengubah Preferensi Pemilih

Rabu, Juni 17, 2009

Televisi Mengebiri Demokrasi di Indonesia

Dua mingguan ini Kang Kombor merasa heran karena di saat pilpres sudah semakin dekat, iklan kampanye pasangan capres-cawapres no.1 kok malah sepi menyapa keluarga Indonesia. Tentu saja mengherankan mengingat pada saat pilleg lalu, iklan partai no.5 yang menjadi pengusung pasangan capres - cawapres no.1 tidak henti-hentinya hadir ke dalam ruang keluarga kita.

Ternyata, paket iklan politik pasangan capres - cawapres no.1 ditolak oleh semua stasiun televisi kecuali Indosiar. Alasannya, iklan politik tersebut mengkritik kebijakan pemerintah. Padahal, iklan politik tersebut telah lolos dari Badan Sensor Film dan komisi penyiaran Indonesia.

Sungguh aneh, televisi yang terkadang menjadi juara dalam melakukan kritik terhadap pemerintah melalui berbagai programnya seperti program pemberitaan dan dialog, kini menjadi garis depan pertahanan untuk menangkis kritik terhadap kebijakan pemerintah yang disampakan melalui iklan politik pasangan capres - cawapres no.1.

Dalam sebuah negara demokrasi, pers atau media merupakan salah satu pilar bangunan demokrasi. Pers menjadi alat untuk mengontrol demokrasi agar berjalan di atas rel yang benar. Pers akan menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan keberhasilan pemerintah. Tetapi di lain pihak, pers juga memiliki fungsi untuk meluruskan pemerintah melalui kritik-kritik yang faktual.

Menilik hal di atas, kita tidak dapat menyalahkan apabila kemudian timbul kecurigaan bahwa televisi telah diintervensi oleh kekuasaan untuk tidak menerima iklan yang berisi kritik terhadap kebijakan penguasa walaupun kritik tersebut didasarkan pada angka-angka yang diperoleh dari sumber yang terpercaya di Indonesia seperti Badan Pusat Statistik.

Lebih jauh, stasiun televisi yang menolak iklan tersebut dinilai telah memasung kreativitas untuk menyampaikan pendapat sekaligus memasung hak untuk mengeluarkan pendapat itu sendiri. Memasung hak yang dijamin oleh konstitusi. Oleh karenanya, pantas apabila dikatakan bahwa stasiun televisi telah mengebiri demokrasi.

Kang Kombor menyayangkan perilaku stasiun televisi yang tidak menempatkan diri dengan baik sebagai pilar demokrasi. Stasiun televisi sebaiknya memberikan kesempatan yang sama kepada para kontestan pilpres 2009 ini. Stasiun televisi sebaiknya juga menerima iklan politik yang telah diloloskan oleh Badan Sensor Film dan Komisi Penyiaran Indonesia. Apabila iklan tersebut berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah, biarlah pemerintah yang menjawabnya. Justru menjadi aneh mengapa stasiun televisi mengambil peran lebih sebagai satpam pemerintah.
-------------
Sent from my KomborBerry® smartphone

READ MORE - Televisi Mengebiri Demokrasi di Indonesia

Pilpres 2009 Satu Putaran

Sebenarnya, mau satu putaran atau dua putaran, pilpres 2009 ini tidak masalah. Apabila rakyat mengendaki satu putaran, jadilah satu putaran. Apabila rakyat menghendaki dua putaran, jadilah dua putaran. Selain itu, mari ingat bahwa ada Tuhan yang Maha Berkehendak. Ingatlah pemeo "vox populi vox dei", suara rakyat suara Tuhan. Kehendak rakyat itu juga tidak lepas dari kehendak Tuhan.

Sayangnya, pada pemilihan presiden 2009 ini justru terasa ada setting untuk menjadikan pilpres satu putaran. Rakyat pun diteror melalui gerakan pemilu satu putaran yang diiklankan pula dengan gencar.

Alasan bahwa pilpres satu putaran lebih hemat anggaran adalah merupakan pembodohan. Anggaran untuk pilpres ini sudah disiapkan oleh negara. Artinya, sudah diperhitungkan secara seksama oleh pemerintah maupun DPR. Pilihan kita untuk melakukan pemilihan presiden secara langsung sejak awal sudah merupakan pemborosan anggaran. Apabila mau hemat, kita kembalikan saja pilpres kepada mekanisme lama, yaitu presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR. Nah, ketika kita sudah memilih demokrasi langsung, marilah kita biayai ongkos demokrasi langsung itu. Berapa putaran pun yang harus kita jalankan, mari kita jalankan. Tidak usahah kita menyerukan penghematan untuk membiayai demokrasi langsung yang dari sananya sifatnya sudah boros dana itu.

Mengenai pilpres satu putaran berarti lebih legitimate, Kang Kombor pikir tidak sesederhana itu. Legitimasi tidak semata-mata ditentukan oleh hasil pemilu tetapi juga oleh proses pemilu. Apabila proses pemilu jauh dari kaidah pemilu yang demokratis dan jurdil, legitimasi hasilnya pun menjadi cacad.

Ketika JK menyerukan bahwa ia akan dapat bekerja lebih cepat dan lebih baik, SBY mengatakan agar jangan takabur. Sayangnya, Tim SBY (mungkin Tim Siluman) saat ini sudah menunjukkan sifat-sifat takabur itu. Berdasarkan hasil survey, Tim SBY menjadi takabur. Padahal, survey pun dapat direkayasa agar hasilnya sesuai dengan hasil yang diinginkan pemberi order.

Manusia seharusnya ingat bahwa ia bisa melakukan rekayasa tetapi Tuhan Maha Merekayasa. Mudah-mudahan satu putaran atau dua putaran nanti, proses pilpres tidak diciderai dengan kecurangan-kecurangan atau pun pengaturan sistematis.

-------------
Sent from my KomborBerry® smartphone

READ MORE - Pilpres 2009 Satu Putaran